Gesekan antara Apple dengan Adobe dan Google


PERTARUNGAN DENGAN ADOBE – THOUGHTS ON FLASH

Baru beberapa hari lalu Apple mengeluarkan surat terbukanya perihal Flash dalam tulisannya berjudul Thoughts on Flash. Memang kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga Steve bilang.

PERTAMA, masalah touchscreen. Flash tidak cocok dengan platform masa depan yang akan mengarah pada penggunaan touchscreen. Atau paling tidak hardware Apple yang sudah mulai mengoptimalkan fungsi touchscreen, khususnya iPad dan iPhone. Flash hanya cocok jika menggunakan mouse atau trackpad yang menggerakkan animasi maupun menu pada aplikasi Flash, lalu bagaimana dengan touch? Tidak ada yang bisa digerakkan, karena semua hanya sekali sentuh. Faktanya memang belum ada ponsel yang bisa menjalankan website berbasis flash secara interaktif, kalaupun ada biasanya hanya tampilan mati yang terkonversi menjadi web biasa seperti pada Opera Mini.

KEDUA, masalah baterai. Flash memang indah kalau dilihat di komputer, tapi konsekuensinya resource processor banyak terpakai. Kadang kalau saya buka beberapa tab web yang berbasis Flash suka bikin komputer agak lelet, mungkin ngabisin tenaga CPU. Lalu bagaimana dengan perangkat mobile yang mengutamakan irit baterai? Apalagi prosesor ponsel tidak akan pernah sekuat prosesor komputer. Dan dikarenakan Flash merupakan proprietary alias bukan open source, otomatis untuk menjalankan Flash harus menggunakan decoder yang dikembangkan Adobe yang sekaligus secara otomatis decoding secara software, yang akibatnya memakan tenaga prosesor. Dengan sifatnya yang tertutup, para pengembang device akan sulit membuat decoder hardware yang memungkinkan proses decoding lebih cepat tanpa harus menggunakan tenaga prosesor.

KETIGA, masalah keamanan. Symantec melaporkan dalam Symantec Global Internet Security Thread Report Trend 2008 (terbit April 2009, PDF 3,6 MB) bahwa beberapa plugins browser, Flash termasuk diantara yang tidak aman yaitu ada 16 lubang keamanan.

KEEMPAT, masalah pengembangan. Memang Flash sepenuhnya merupakan aplikasi tertutup, sehingga tidak dimungkinkan ada pengembangan oleh developer lain selain dari internal Adobe sendiri. Padahal, disisi lain Google Android, RIM Blackberry, Nokia, dan Apple sendiri menggunakan Webkit terbuka dalam produknya. Wajar juga kalau iPhone dan iPad tidak bisa menjalankan animasi Flash di website, dan tidak hanya produk Apple, Nokia, Android, Blackberry, dan Windows Mobile pun memang tidak bisa juga.

Jad memang Apple tidak menggunakan teknologi Flash karena alasan yang bisa dimengerti. Sebetulnya Adobe tidak bisa juga menganggap bahwa penggunaan Flash yang sudah mendunia di dunia komputer desktop/laptop/netbook menjadikannya harus bisa dijalankan di semua platform termasuk ponsel dan tablet PC.

Sebetulnya, Apple adalah pelanggan terbesar dan paling setia Adobe. Banyak teknologi Adobe yang diusung Apple dalam jajaran produknya, misalnya teknologi PDF yang intergral dalam engine Quartz pada Mac OS X yang memungkinkan PDF menjadi standar di seluruh Mac OS X. Dahulu, Apple juga banyak bekerja sama dalam bidang desain grafis. Mayoritas pengguna Apple kala itu adalah pengguna produk Adobe. Bahkan mesin printer Apple mengadopsi teknologi Postscript-nya Adobe.

Jadi tampaknya ini hanya murni karena persinggungan bisnis, bukan total secara korporat. Hubungan persahabatan pun bisa retak jika saling tersinggung untuk urusan masa depan fulus dan nama baik.

PERSINGGUNGAN DENGAN GOOGLE – GOOGLE’S DON’T BE EVIL’ MANTRA IS BULLSHIT

Apple juga mengatakan bahwa Google adalah pembohong. Ini juga menark. Google pernah berkomitmen untuk tidak masuk ke pasar ponsel setelah sekian lama. Namun beberapa waktu setelah keluarnya Apple iPhone, tiba-tiba Google menerbitkan Android. Disini Apple merasa dibohongi dan dicurangi dengan permainan waktu. Nama iPhone yang sedang booming tiba-tiba dialihkan oleh kehadiran Android.

Dalam kultur Google, ada sebuah motto atau slogan yang berbunyi: “Don’t be Evil“.

“Don’t be evil” is said to recognize that large corporations often maximize short-term profits with actions that destroy long-term brand image and competitive position.

Jadi dalam persaingan bisnis adalah tidak layak jika mematikan usaha orang hanya untuk keuntungan sesaat. Dalam hal ini Apple yang cukup bersahabat dan bertetangga baik dengan Google, baru merintis bisnis ponsel. Namun tiba-tiba sang tetangga yang karena ketenarannya membuat bisnis serupa. Seperti aktor dan aktres yang mencoba terjun ke dunia tarik suara, padahal tidak semua aktris bersuara cantik untuk memainkan nada. Disitulah Apple dan Google yang tadinya bersahabat dan “bertetangga” menjadi renggang. Dan disitu Steve beranggapan bahwa motto Google “Jangan Menjadi Jahat” adalah kebohongan saja.

Sekali lagi, “politik bertetangga baik” antara Google dan Apple harus “tidak enak”. Dan disini yang tersinggung adalah Apple. Bisa dimaklumi.

Dalam dunia usaha, persaingan itu sudah biasa, apalagi dalam tataran korporasi. Namun jika kita menarik mundur dalam tataran kehidupan sehari-hari kita, rasanya tidak etis juga kalau kita baru menerbitkan produk baru tibat-tiba usaha kita “ditiru” oleh tetangga kita. Padahal, jika kita tidak mengeluarkan produk itu, mungkin sang tetangga tidak akan pernah menerbitkan produk serupa.

KESIMPULAN

Apple diakui sebagai perusahaan yang paling dikagumi serta paling inovatif menurut majalah bisnis Forbes. Banyak sekali inovasi Apple dalam era digital ini. PDA pertama diperkenalkan oleh Apple melalui produk Apple Newton. USB pertama merupakan kreasi Apple yang tertanam dalam sebuah Macintosh. Lainnya bisa dilihat disini:

  1. 50 World’ Most Innovative Companies – Business Week
  2. The World’s Most Innovative Companies – Business Week
  3. Google, IBM, Apple Top Lists of Most Valuable Brand – Information Week
  4. America’s Most Admired Companies: 10 Most Admired for Innovation – Fortune/CNN
  5. Apple Innovation – Insights, Case Studies, Best Practise, Ebook Creativity Strategy Ideas
  6. Top 10 Apple Innovation – AppleGazette

Sebetulnya persaingan usaha di antara produsen hardware dan software tidak menjadi masalah. Tapi yang aneh adalah banyak sekali yang melihat Apple sebagai satu entitas yang aneh dan berbeda dari yang lainnya. Padahal kalau kita berbicara sebuah MacBook sama dengan kita berbicara dengan sebuah Dell Inspiron, Sony Vaio, dan Acer Aspire.

Kalau berbicara iMac sama juga kita bicara tentang Lenovo IdeaCenter, dan MSI Wind Top. Apple sering dibandingkan sebagai “Apple vs PC” padahal Apple sendiri tidak lain hanya salah satu pemain dari belasan/puluhan produsen komputer. Selanjutnya, sering juga dibandingkan antara “Mac OS X dengan Windows” padahal Mac OS X itu hanya sebuah software/firmware buatan Apple untuk hardware Apple. Sedangkan, Windows memang sebuah software buatan Microsoft yang dibuat untuk berbagai merek hardware. Jadi sulit membandingkan pertumbuhan Mac OS X dengan Windows karena memang tidak apple-to-apple. Kalaupun hardware yang dibandingkan, memang bisa semisal “MacBook sales growth vs Sony Vaio sales growth”. Tapi kalau Mac OS X dengan Windows memang tidak bisa dibandingkan.

Yang menjadi perhatian saya adalah banyak sekali orang yang tampaknya membenci Apple, termasuk majalah komputer di Indonesia (PC Media) yang selalu mengulas Apple dari sisi buruknya saja (silakan buktikan). Selama saya baca ulasan PC Media tentang produk Apple, belum pernah saya menemukan tulisan yang positif. Entah karena iri dan kurang sreg dengan model bisnis Apple atau apa, tapi itu jadi fenomena tersendiri. Dan lucunya lagi, banyak juga yang mengejek produk Apple tanpa pernah sedikitpun merasakan menggunakannya (prasangka saja).

Hal-hal seperti itu seharusnya tidak perlu muncul. Semua punya kekurangan dan kelebihan. Malah saya pribadi simpati terhadap Apple yang sedang digempur sana-sini, dikritik habis-habisan, menjadi bulan-bulanan, menjadi tameng (seperti dalam kasus Flash, yang menjadi tameng juga bagi RIM, Nokia, dan Google), padahal di sisi lain banyak produk Apple yang merupakan inovasi dan warisan bagi era digital. Memang harus diakui bahwa produk Apple itu selalu bagus, premium, dibuat dengan citarasa yang amat menarik. Kalau harganya terlalu mahal berarti bisa dicari produk serupa yang lebih murah. Kalau tidak suka juga masih banyak alternatif lain. Malah dengan begitu, sebetulnya banyak yang secara tidak sadar kagum akan Apple, tapi karena sulit menerima kenyataan malah jadi berperilaku sebaliknya. Yaa.. perbedaan antara benci dan cinta itu sangat tipis. :-)

9 comments on “Gesekan antara Apple dengan Adobe dan Google

  1. Emank tuh lagi hangat perseteruan adobe-apple. Flash emank bgus, tapi masa jaya2nya ya pada masa pc. Flash cuma bisa diakses pk mouse kan, kalo touchscreen ya jadi mati kutu. Hehehe. Ayo kita dukung kehadiran html5, yg lebih bgus drpd pk flash.
    Oiya,mengenai yg banyak benci apple tu kalo gw pikir kayak kasus microsoft ya. Bkan benci karena teknologinya, tapi karena mereka menilai harganya overpriced.
    Kalo google, hmm, disatu sisi apple merasa dirugikan, disatu sisi google menyelamatkan juga. Android itukan bukan murni dr google lho. Jd ada suatu perusahaan, lupa namanya, dia ngembangin os buat hp baru berbasis linux. Setelah selesai, dinamain android. Tapi perusahaan tersebut pnya masalah keuangan. Google ngeliat potensi os trsbut,drpd ilang sia sia, ya di akuisisi (ato dibeli ya,lupa juga) tu perusahaan.
    Kita sebagai konsumen harusnya senyum2 aja ngeliat gejala2 tadi, kan imbasnya jadi persaingan tajam, trus banting harga. Iya gak? Hehehe

  2. Itulah.. Kalau persaingan dengan Android memang bagus juga, memang namanya persaingan usaha sehat ya memang harus begitu. Mengenai overpriced, kayaknya kasusnya beda sama Microsoft. Kalau Microsoft itu overpriced dan memang sangat dibutuhkan, seolah kita gak bisa idup tanpa WIndows dan Office. Akibatnya, produknya dibajak. Tapi kalau kasus Apple, rasanya orang juga sebetulnya pada gak kenal Apple. Overpriced ngga membuat orang jadi prustrasi. Toh orang pada pake Windows. Kalau overpricednya Apple jadi dibajak, memang itu sama juga ada (hackintosh). Itu yang membuat gw bertanya-tanya, kenapa overpricednya Apple saja diributkan, kan masih ada Windows yang lebih familiar bagi kebanyakan orang.

  3. Seru dah pokoknya liat steve jobs. Adobe dilawan, google juga.. Tinggal 1 lagi, tau g? Hehehe.. Intel! Yup! Tunggu suatu saat apple nunjuk ke intel for the crappy processors wakakak! Gelo smua dilawan.. Huahahaha

  4. Kemungkinan gitu. Karena sekarang Apple lagi melobi AMD. Bisa aja ke depan produk Apple pake AMD yg lebih murah daripada Intel. Lagipula, AMD kompatibel sama x86 maupun x64.

    • Saya sebenarnya mengharapkan gabungan prosesor AMD dan grafis nVidia pada tiap produk Mac Apple, dibanding grafis AMD Radeon. Kenapa?
      Mungkin karena pernah menggunakan GNU/Linux serta betapa mudahnya install update driver pad nVidia dibanding (dulu ATI) Radeon. Tapi mungkin gak ya?

  5. Gw ralat komen gw dam. Kata steve jobs flash ga dukung buat touch. Tapi ternyata nokia n900 yang ber-os linux maemo bisa jalanin full. Itu n0kia gabungan antara intrnet tablet sm hp. Cara kerja di n900 kalo ga salah y, ada optionnya buat ngaktifin touch-mouse. Jadi pas kita sentuh layar, langsur jadi m0use pointer, trus kita tinggal geser2 aja smbil nempel dilayar. Problem solve kan? Gw bingung juga knapa apple ga mw berbuat gt? Bnyak yg bilang emank steve rakus. Smua mw diambil alih. Ada benernya juga. Btw dr browser hp gw aja bisa langsung liat video youtube. Ga pernah crash juga. Gara2 ini, gw jadi salut sama n0kia n900. Wah ada 2 hp idaman neh jadinya, android n maemo wkwkwk..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s