Bahasa Indonesia sering sekali mengalami perubahan makna, baik itu positif konstruktif maupun negatif destruktif. Saya memperhatikan bahwa perubahan bahasa itu akan tergantung pada pola pikir dan pemahaman penuturnya. Kalau pengetahuan dan pola pikir penuturnya baik, maka akan baik pula pengertiannya terhadap suatu bahasa. Begitu juga sebaliknya.
Ada kata-kata yang cenderung banyak mengalami perubahan, dan sayangnya, negatif pada pengartian “introvert”, “ekstrovert”, “autis”, “feminin”, dan “maskulin”. Saya melihat bahwa pemahaman-pemahaman terhadap 5 kata ini cenderung memburuk dan tidak sesuai dengan arti yang sebenarnya. Ini menjadi masalah karena 5 kata ini sering menjadi kata bulan-bulanan kepada para “pemiliknya”. Pemahaman yang buruk menghasilkan pengertian yang buruk, dan pengertian yang buruk menghasilkan persepsi buruk.
INTROVER DAN EKSTROVER
Tidak banyak orang yang memahami bahwa introver/ekstrover adalah merupakan anugrah fisik. Ya, perbedaannya ada pada desain fisiologis, bukan psikologis. Perbedaan komponen di otak membedakan karakteristik pembawaan, kelebihan, kekurangan, dan sifat khas lainnya satu sama lain. Jaringan neurotransmitter manusia introver dan ekstrover sangat berbeda saat tercipta. Introver akan tumbuh sebagai introver, ekstrover akan tumbuh sebagai ekstrover. Adapun seseorang tercipta sebagai salah satu namun yang tampak adalah sebaliknya biasanya dikarenakan faktor lingkungan, pola asuh, dan pend idikan. Namun secara internal, fisiknya dirancang untuk melakukan salah satu tugas khusus. Kita ikuti kutipan berikut ini:
“To take a brief visit into the fascinating world of brain physiology, the dominant pathway of blood flow in the brains of introverts is longer and more complex than the main extrovert pathway. And the key brain chemical (or neurotransmitter) that travels on the pathway is acetylcholine. For extroverts the dominant neurotransmitter is dopamine. These two chemicals have very different characteristics.”
Dan satu lagi:
“Another important hardwiring difference between introverts and extroverts is that they use different sides of the autonomic nervous system. Introverts predominately use the parasympathetic or “put on the brakes” system; extroverts use the sympathetic or “give it the gas” system. Introverts have more blood flowing to the front of the brain; extroverts have more blood flowing to the back.“
Tidak ada orang yang introver sepenuhnya atau ekstrover sepenuhnya. Setiap orang memiliki karakteristik diantaranya, ada yang kuat ada yang tengah-tengah. Dengan perbedaan komposisi dan desain otak introver dan ekstrover, maka tampaklah bahwa:
- Introver memiliki jalur neurotransmitter yang lebih panjang memerlukan waktu pemrosesan yang lebih lama namun sakaligus mampu mengintegrasikan informasi intelektual dan emosional yang kompleks secara lebih baik. Ekstrover, dengan jalur neurotransmitter yang lebih pendek akan memproses informasi intelektual dan emosional lebih cepat.
- Introver lebih sulit menggerakkan badan karena bagian nervous system (sistem saraf) memerlukan pikiran dalam kondisi sadar untuk melakukannya. Pada ekstrover, bagian sistem saraf secara tanpa memerlukan ”kesadaran“ dapat melakukannya.
- Introver lebih banyak menggunakan long-term memory yang memerlukan waktu lebih. Ekstrover lebih banyak menggunakan short-term memory yang tidak terlalu memerlukan waktu untuk ”loading“.
- Introver berbicara setelah mengumpulkan, memproses, dan membuat kesimpulan tentang pemikiran dan perasaannya. Ekstrover berbicara sambil berpikir.
Pada dasarnya, perbedaan introver dan ekstrover adalah itu. Pada perkembangannya akan sangat mempengaruhi kehidupannya baik itu di dunia bayi, balita, kanak-kanak, masa sekolah, masa kuliah, sampai dengan masa kerja. Terlalu ekstrover tidak baik, terlalu introver juga tidak baik. Para introver dan ekstrover memerlukan kesadaran akan kekurangan ”arsitektur“ dirinya dan menambal kekurangan itu seperlunya, tanpa harus mengubah dirinya menjadi lainnya.
AUTIS
Mendengar kata ”autis“ yang sering menjadi kata bulan-bulanan bahkan umpatan, rasanya miris juga. Saya pernah mendengar beberapa ibu dari anak autis yang merasa sakit hati dengan istilah autis yang sembarang dilontarkan kepada para pengguna BlackBerry, Facebook, dan sebagainya. Lebih parahnya lagi, beberapa orang menganggap bahwa orang yang tidak suka ikut kongkow-kongkow itu adalah autis. Luar biasa perubahan bahasa yang ada dikarenakan picik dan tidak pekanya penutur kata itu terhadap kondisi riil.
Autis merupakan penyakit mental bawaan lahir yang perlu perbaikan. Betapa orang tuanya cukup kerepotan mengasuh anak berkebutuhan khusus ini. Dan pasti ada rasa sedih melihat anaknya tidak dapat berkembang dengan normal. Anak-anak autis berkebutuhan khusus dapat hidup pada zamannya dengan cara khusus pula.
Stop! Jangan kata-katai orang dengan kata ”autis“. Itu sangat menyakitkan bagi para orang tua, khususnya ibu, yang memiliki anak berkebutuhan khusus ini.
FEMININ DAN MASKULIN
Dua kata ini sudah mengalami perubahan arti yang parah pula. Berdampak pada kerusakan arti dan turunan-turunan akibatnya. KBBI mengartikan ”maskulin“ sebagai ”bersifat jantan: laki-laki yg dadanya berbulu akan tampak lebih“ dan ”jenis laki-laki“, katanya. Begitu juga untuk kata ”feminin“ sebagai ”mengenai (spt, menyerupai) wanita“ dan “bersifat kewanitaan. Sedih juga bacanya.
Saya lebih setuju dengan pengartian yang lebih baik, sayangnya ada di bahasa Inggris, ”having qualities or appearance traditionally associated with men, esp. strength and aggressiveness“. Disana dikatakan adanya kualifikasi atau penampilan yang secara tradisi diasosiasikan dengan laki-laki, misalnya kekuatan dan keagresifan. Itu tafsiran yang lebih generik.
Jika saya berbicara 99 sifat Tuhan yang diperkenalkan kepada manusia melalui dalam kitab suci (meskipun sebetulnya sifat-Nya tidak akan pernah terhitung saking banyaknya), 80%-nya adalah sifat feminin. Kebesaran, Keperkasaan, Kemurkaan, Keagungan, adalah sifat-sifat maskulin. Sementara Kasih, Kelembutan, Kepemaafan, Pengampun, Penyayang, adalah sifat-sifat feminin.
Sayangnya, banyak sekali penutur yang menyurutkan arti feminin menjadi ”kecewek-cewekan“, ”kelemek-kelemek“, berwarna pink, dan sebagainya. Arti maskulin juga berubah menjadi ”kasar“, ”jantan“, ”perkasa“, ”tomboy“, dan sebagainya.
Padahal, arti maskulin dan feminin seharusnya lebih luas dari itu. Beberapa negara memiliki karakteristik maskulin (arogan, sombong, militerisme, mendikte, hard power) seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, dan sebagainya. Sedangkan beberapa cenderung feminin (lembut, persahabatan, soft power) seperti Swedia, Italia, India, Nepal, dan sebagainya.
Saya melihat jelas bahwa kesulitan para pembuat film menentukan judul yang tepat dalam bahasa Indonesia, sehingga akhirnya menggunakan kata-kata bahasa Inggris. Ada satu film layar lebar buatan dalam negeri judulnya ”Missing“. Mungkin sineas, produser, atau sutradara punya kemaluan besar cukup malu menjudulinya dengan ”Kehilangan“, ”Kangen“, ”Rindu“, ”Lenyap“, dan sebagainya. Tapi tidak salah juga, bahasa kita banyak mengalami penurunan arti karena pendidikan kita masih rendah.
Ya, semoga saja Bahasa Indonesia kita tetap jaya sejalan dengan semakin baiknya tingkat pendidikan dan rasa nasionalisme.