Review Express Air PK-TXG Flight XN-801

Tanggal 17 Desember 2010 yang lalu saya menggunakan jasa angkutan udara Express Air dari Jayapura ke Jakarta. Menurut jadwal, ETD 09.00 WIT dan ETA 15.10 WIB. Pesawat ini singgah di Manokwari, Sorong, dan Makassar sebelum ke Jakarta.

Singgah di Bandara Rendani Manokwari selama ±20 menit penumpang dipersilahkan untuk tinggal di dalam pesawat. Di Bandara Domini Eduard Osok (DEO) Sorong pun singgah sekitar 20 menit dan penumpang dipersilahkan untuk turun dan menunggu di ruang tunggu, dengan alasan pesawat akan dibersihkan.

Setelah landing di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, flight attendant mengatakan akan singgah lebih kurang 20 menit juga. Penumpang pun turun menuju transit desk. Ternyata ketika cek di transit desk dan diberi kartu transit, si kuncen transit desk bilang bahwa pesawat delay dan ETD dari UPG ke CGK adalah pukul 17.00 WITA! Itu berarti telah terjadi delay selama 3 jam. Penumpang pun pada mengeluh. Ada yang hanya nerimo, ada yang komplen, ada juga yang marah-marah.

Berikut hak penumpang dan kewajiban maskapai jika terjadi delay menurut Keputusan Menteri Perhubungan RI No.25 Tahun 2008 (KM No.25 Tahun 2008) tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara, efektif berlaku Juni 2008:

  1. 30 – 90 menit = penumpang mendapatkan makanan kecil dan minuman
  2. 91 – 180 menit = penumpang mendapatkan makanan ringan, minuman serta makanan (besar) dan melakukan pemindahan ke penerbangan/ maskapai lain apabila penumpang menginginkan dan memungkinkan untuk itu.
  3. > 180 menit = maskapai harus memberikan akomodasi dan memprioritaskan penumpang bersangkutan untuk penerbangan hari berikutnya.
  4. Jika penumpang memutuskan tidak jadi berangkat karena keterlambatan/ pembatalan tersebut, maskapai harus mengembalikan harga tiket sesuai harga pembelian

Tampaknya pihak Express Air juga sudah mempersiapkan beberapa flight lanjutan yang lebih cepat kompensasi poin 2. Namun karena tiketnya terbatas, akhirnya hanya beberapa orang yang didatangi oleh seorang wanita muda yang cantik dan menawarkan permen boarding pass pesawat Sriwijaya Air yang ETD jam 15.00 WITA. Sang pemudi itupun bilang kepada saya “keep silent aja ya pak, soalnya tiketnya terbatas, nanti yang lain pada minta semua”. Hahhayyy…. abis ngasih permen, dia bilang jangan bilang siapa-siapa tentang hubungan kita boarding pass tadi.

Okelah, kami tunggu sampe jam 3 lewat. Eh si burung besi dari kerajaan tua itu belum juga nongol-nongol. Kesallah kami dan kami datang lagi ke si pemudi tadi. Prikitieuw… aji mumpung…! Ehm… “Mbak, ini udah jam 3 tapi pesawatnya belum juga nongol?”. Dia jelaskan balik bahwa Sriwijaya juga delay sampe jam 17.00 WIT. Lalu aku bilang sama saja dengan Express. Dia balik bilang: “Express lebih parah pak, paling cepat sekitar 17.30an.” Hey bos Express Air, catat tuh masa meledek civitas akademika sendiri??

Saya minta dia untuk pindahkan saya ke maskapai lain yang lebih cepat. Namun balasnya, maskapai lain penuh semua seatnya. Hmm… Pertemuan penting bisa batal kalo begitu caranya ya.

Oke, cukup sudah daku curhat tentang kekecewaan bersama pemudi Express Air. (Baca juga artikel: Pentingkah punya istri cantik?)

Saya ingat-ingat, pesawat yang saya tumpangi berkode registrasi Indonesia sebagai pesawat komersial PK-TXG. Berikut laporan singkat hasil penyelidikan di TKP terkait jejak rekam si burung express (katanya, meski sering delay) dari pelukan ke pelukan maskapai ke maskapai lain:

AIRFRAME

  • Construction Number = 25066
  • Line Number = 2038
  • Aircraft Type = Boeing 737-5L9 (Express nyebutnya 737-500)
  • First Flight = 26 April 1991
  • Age = 19,7 tahun
  • Airframe Status = Active
  • Engines = 2x CFMI CFM56-3B1

OPERATOR HISTORY (Reg / Airline / Delivered / Remarks)

  1. OY-MAE / Maersk Air / 17-05-1991 /
  2. G-MSKC / Maersk Air UK / 03-12-1996 / Leased from Maersk Air
  3. OY-MAE / Maersk Air / 04-07-2002 / ret
  4. OY-MAE / Sterling Airlines / 13-09-2005 / Leased from ORIX
  5. OY-MAE / Jet-Time / 25-10-2006 / Leased from Sterling Airlines
  6. OY-MAE / Sterling Airlines / 07-02-2007 / ret
  7. PK-TXG / Express Air / 25-02-2009 / Leased from Aero North International

*) Klik untuk lihat fotonya.

Monster Filght Simulator X Performance Problem

Many FSX user complain about it’s performance, even with the best spec available today. Still don’t know what kind of a monster hardware can play FSX at maxxed graphics settings. FSX is a power hog, CPU and GPU intense. There must be a mon$ter computer specification which can play FSX at maximum graphics settings available. Thus, Tom’s Hardware use FSX for benchmarking purpose either.

At a time when I play it with my old PC (Pentium 4 HT – 3.5 GHz o/c, 2 GB DDR2, GeForce 7100 GS, 80 GB HDD, Win XP, and 15″ monitor), I found in Task Manager (Ctrl-Alt-Del) that fsx.exe only use 1 thread. It means fsx only use 50% processor speed! Goddam! Another games use both.

Yesterday I change BIOS setting to disable HyperThreading and I’ve got FSX at faster fps, utilized 99-100% my P4 speed. Yet, it’s not the maximum setting due to lack of hardware spec, but still faster (maybe 50-80%). Even my FS 2004 now runs perfect and smooth with maxed graphics setting (custom, above ultrahigh setting).

I don’t know where are the bugs come from, the XP or the FSX. I didn’t try it on Core2Duo or Vista and better. C2D and Vista or better may check the Performance tab on Task Manager.

Oh god, upgrading my CPU should upgrade my mobo too. Upgrading my GPU should upgrade my PSU. Upgrading my RAM should upgrade my OS to x64. Upgrading OS to x64 should upgrade my CPU….. etc. laka neverending stories….!

Update: 5th of June 2010

I’ve started googling and found Microsoft’s Service Pack 1 and Service Pack 2 (click for download link) for Flight Simulator X. After installation of SP’s then you would be asked for an activation key. Your activation key is right on your DVD cover. Then be aware of an installation of cracked FSX.

Some people found that SP1 boosts FSX performance about 5-50 percent fps gain.

Antara Real Plane dan Simulator

Ketika saya menerbangkan Boeing 737-400 di FS9, kalau udah lewat dari 320 knot selalu diperingatkan sudah overspeed dan mengeluarkan bunyi kletek-kletek yang agak mengganggu, padahal 340 knot berarti sekitar 630  km/jam. Kalau kita naik pesawat betulan (waktu itu Garuda) dengan seri yang sama, pilot bilang kecepatannya sekitar 800-an km/jam. Itupun pada ketinggian 32.000 kaki dpl. Persis sama.

Apa FS9 ada kesalahan atau ada tombol penyesuaian yang belum dilakukan?

Pesawat terbang, masterpiece teknologi manusia

Saya penggemar pesawat terbang, terutama saat landing. Setiap terbang, hingga saat ini saya selalu terkesima dengan keajaiban airflow yang mengalir lewat sayap. Kalau naik pesawat, pasti saya tidak kelewatan menikmati “adegan” pendaratan.

Flight Attendant, prepare for landing… Kru kabin pun bersiap. Tung…. Lampu kenakan sabuk pengaman pun dinyalakan… Kuping pun terasa mulai pekak…

Nguuung…. Suara sistem hidraulik menurunkan flaps untuk mengurangi laju pesawat sekaligus mengamankan penurunan ketinggian. Tingkat flaps 5, 10, 15, 25, 40 pun satu persatu diturunkan. Setelah flaps turun sepenuhnya, aliran udara mulai terpecah dan menampakkan aliran yang seperti asap rokok ditiup.

Jleg…….. gear down!!! Flight Attendant, landing position..! Kecepatan pesawat pun dinaik-turunkan untuk menjaga penurunan vertical speed. Pesawat mulai mendongak ke atas. Aileron bermain sedikit-sedikit agar pesawat tidak miring.

Areal bandara sudah mulai tampak, pesawat pun semakin turun. Nguiiingg……. Kecepatan dinaikkan lagi agar penurunan semakin tipis, untuk mempermulus menempelnya roda ke runway. Bug…. ggrrrggggrgrggrrrgr…. landasan yang kurang halus membuat laju terasa bergetar….

Bessss….,spoiler dinaikkan untuk memecah udara agar laju pesawat berkurang. Bugggg….,reverse thrust dikeluarkan untuk membalikkan arah dorongan jet ke depan. Kecepatan pesawat pun terus turun hingga 60 knot (sekitar 111 km/jam).

Reverse thrust pun dihentikan,spoiler diturunkan, dan rem roda pun digunakan hingga kecepatan wajar untuk melakukan taxidari runway ke gate yang dipersiapkan.

Mesin pun dimatikan….. Doors may be opened… Alhamdulillah… selamat sampai tujuan….

Kerangka pengelolaan cache Google Earth

Saya udah berencana bikin aplikasi pengelola cache Google Earth, tapi belum juga dimulai karena waktu yang sangat terbatas. Tapi kerangka pemahaman pengelolaan itu udah bisa dibayangkan. Unsur-unsur yang harus dipahami adalah memahami cara kerja Google Earth mengelola cachenya, menggunakan metoda operasi dasar pengelolaan file oleh OS, membuat aturan dasar cara pakai penggunaan.

Cara Kerja Google Earth Mengelola Cachenya

Singkatnya, berdasarkan penelitian sendiri terhadap cara kerjanya, Google Earth memiliki 2 file cache utama, yaitu:

  1. dbCache.dat, yaitu sebagai file database berisi pecahan gambar JPG dalam ukuran 256 x 256 pixel. File inilah yang dimaksud Google Earth diperbolehkan berisi cache hingga 2 Giga Bytes.
  2. dbCache.dat.index, yaitu sebagai indeks lokasi dan koordinat pecahan-pecahan file gambar.

Menurut pengalaman saya, aturan mainnya file index itu akan diperbaharui 2 hari sekali oleh aplikasi Google Earth kalau terkoneksi ke internet. Saya pernah buka lokasi beberapa kota sekaligus sampai 400 Mega Bytes dengan tujuan agar masuk dulu ke cache, biar nanti bisa saya buka kemudian secara offline.

Memang kalau saya buka secara offline cache tersebut masih bisa kita pakai. Tapi sekali kita online, maka index cache itu akan direset meskipun file databasenya masih ada (berukuran besar). Ini yang menjadi masalah bagi pengguna. Bagi Google, ini merupakan mekanisme proteksi agar tidak mudak “dicuri”.

Nah, penyelesaiannya hanya 1 cara: KELOLA CACHE SENDIRI…!

Pernah saya bahas sedikit mengenai tips mempertahankan Cache Google Earth. Jadi, untuk mendapatkan cache yang bisa bermanfaat di masa depan yaitu sbb:

1. Perencanaan

Rencanakan area mana yang akan diambil. Sebagai contoh, saya pernah ingin mengambil Bandung metropolis beserta kota-kota satelitnya. Berhubung kampung halaman saya di Rancaekek Bandung, maka saya rencanakan untuk mengambil lokasi peta dari Bandara Soekarno-Hatta hingga rumah di Bandung. Selain itu, karena saudara-saudara dan tempat “jajahan” saya ada di sekitar Bandung, maka saya harus ambil pula Bandung kota dan kabupaten termasuk kota satelit terdekat (Cimahi).

2. Download Peta

Saya ingat bahwa saya hanya punya kesempatan download secara keseluruhan hanya 2 x 24 jam. Kebetulan saya di Bandung, modem HSDPA IM2 saya bisa dipake. Kecepatan download bisa 25-30 Kilo Bytes per detik untuk koneksi UMTS, lumayan. Kalau pake koneksi HSDPA saya pernah sampai 50-55 Kilo Bytes per detik, luar biasa! (Setidaknya bagi saya yang baisa menikmati hanya 1-5 KB per detik di Jayapura… hehe..)

Dalam belasan jam, saya bisa dapet 860-an MB. Itu mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung (Banjaran, Ciwidey, Rancaekek, Cicalengka, Lembang, Soreang, hingga Padalarang), Kota Cimahi, jalur tol Cipularang hingga Bandara Soekarno-Hatta.

3. Amankan Peta

Setelah puas mendapatkan peta, lalu amankan cukup dengan cara ZIP. Sekali sudah menjadi ZIP, aman sudah…

Folder/directory berisi cache yang perlu di-ZIP yaitu:

  • /Users/username/Library/Caches/Google Earth/ (di Mac OS X)
  • C:\Documents and Settings\username\Local Settings\Application Data\Google\GoogleEarth (di Windows)

    Nanti di directory Google Earth itu akan ada 2 file data cache utama tadi dan beberapa folder tambahan seperti icons, images, dan models. Tidak apa-apa, ZIP-kan aja semuanya. Ganti nama zipped file menjadi nama kota/lokasi.

    Menggunakan Cache yang Ada

    Untuk mengembalikan cache yang pernah kita ambil, UNZIP-kan kembali ke directory cache Google Earth tadi. Timpa yang ada. Selesai! Mudah bukan? Semog bermanfaat.