Beberapa hari yang lalu BBM saya mendapat topik tentang suami takut istri, atau dikenal orang sebagai ISTI (Ikatan Suami Takut Istri) di grup yang membuat saya tergelitik tentang bahasan ini. Topik itu sempat ramai juga di group discussion.
Tampaknya istilah ini hanya dikenal di kalangan laki-laki yang masih memiliki prinsip patriarkis. Semakin tinggi tingkat pemahaman patriarkinya, semakin tinggi pula dia akan menyebut orang lain sebagai “anggota ISTI”.
Apakah benar-benar suami-suami yang disebut ISTI itu adalah benar-benar takut kepada istrinya? Bangsa kita memang cenderun patriarki. Bahkan dalam banyak kasus, pria terlalu dominan kepada istrinya dan menjadikan istrinya seperti tidak memiliki pengaruh apapun dan hanya menjadi seorang pembantu rumah tangga. Itu bukan istri namanya, tapi selir.
Pertanyaannya justru berbalik, apakah yang menyebut ISTI kepada orang lain itu adalah seorang yang jantan ataukah seorang penindas? Sebab, bisa saja seseorang dengan bangganya bisa memperlakukan dengan cara apapun kepada istrinya dan mampu membuat istrinya diam dan penurut. Lalu apakah istri penurut itu karena takut oleh suaminya ataukah hormat kepada suaminya? Apakah istrinya yang penurut itu benar-benar menuruti karena setuju akan sang pemimpin, ataukah nerimo saja karena pasti suaranya tidak akan diperhitungkan? Apakah semua laki-laki yang memperhitungkan suara istri sebagai bentuk ketakutan terhadap istri ataukah memang menghargai sang istri sebagai manusia yang berakal dan memanfaatkan kepalanya sebagai penguat keputusan-keputusan keluarga?
Beberapa kawan di kantor memang ada yang agak sangar terhadap istrinya, ada yang setara, ada juga yang cenderung terpengaruh besar oleh istrinya. Tapi saya belum menemukan yang memang takut kepada istrinya, baik itu takut dimarah, takut dimaki, takut diceraikan, takut tidak dikasih jatah, takut tidak diterima, dsb.
Mungkin seharusnya para pria harus mulai lebih bisa menghargai istrinya sebagai manusia yang berakal yang mampu memberikan masukan dan umpan yang baik, apalagi pendidikannya sama-sama tinggi. Sayang sekali kalau semua pendapatnya tidak dihitung. Toh, kita sebagai laki-laki juga bukanlah nabi dan bukanlah seorang Einstein yang super pintar.
Kalau menilik para ulama, contohnya Ayatullah Khumayni, banyak yang bisa kita petik bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus menjadi pemerintah, penakluk, dan penguasa. Pemimpin justru adalah seorang pelayan yang mengurusi urusan yang dimpimpinnya, yang melayani dengan kemahiran manajemen, kelihaian tindakan, kecerdikan akal, kelembutan hati, penghargaan, serta ketegasan dalam kebenaran. Dalam biografinya, beliau bahkan tidak pernah menyuruh sekalipun semasa hidupnya kepada istrinya. Bahkan, ketika beliau akan menjahit bajunya yang sobek dia jahit sendiri walau sampai akhirnya istrinya tidak tega dan membantunya.
Berbeda dengan oknum-oknum pria penindas kepada kaum hawa yang seenaknya menyuruh ini itu, “mama… kopi dong…”, “mama… pijitin dong…”, “ambilkan makan dong…”. Naudzubillah…. dzalim diri saya kalau begitu. Semoga dijauhkan dari sifat seperti itu.
Tapi juga kalau sedikit memperhatikan para suami yang takut istri, biasanya itu dikarenakan dia punya salah. Jika dia suka menghambur-hamburkan uang tanpa alasan, tau-tau uangnya habis untuk beli ini itu tanpa berdiskusi, ya wajar kalau istri kesal. Kalau suami hobi keluyuran malam dan pulang kantor malam terus, wajar kalau istri kuatir dan meminta agar cepat pulang. Suami-suami yang takut istri karena alasan itu berarti masih punya rasa bersalah dan sadar akan kesalahannya namun tidak ingin diketahui istrinya.
Ada pula suami yang takut karena tidak mau diceraikan (mungkin istrinya terlalu cantik), atau takut ditinggalkan, takut tidak dikasih jatah malam, dsb. Ini yang namanya takut istri betulan. Tampaknya para suami seperti ini tidak punya arah visi kepemimpinan yang jelas.
Istri rela keluar kerja karena demi keluarga, yaitu anak dan suami. Ketika salah satu pasangan keluar kerja, maka penghasilan yang ada tetaplah menjadi milik berdua. Lalu apa adil jika sang suami yang memiliki gaji dan merasa memiliki semuanya dan merasa berhak membeli apa yang dia inginkan? Apakah dia telah berlaku adil untuk menyetarakan hal yang sama untuk kesenangan istrinya juga? Memang tidak harus sama, tapi jangan sampai gapnya terlalu menganga.
Jadi, pesan bagi para pria, termasuk saya… Hati-hatilah ketika kita menyebut suami orang sebagai ISTI, karena dengan menyebut orang lain seperti itu karena kemungkinan kita telah lalim kepada istri kita.