Pentingkah punya istri cantik?

Cantik itu relatif, itu benar. Standar cantik terlalu banyak dan beragam. Tidak ada kesamaan persepsi apa itu cantik. Tapi yang jelas satu hal yang pasti dari definisi cantik: enak dipandang. Cara pandang orang berbeda-beda terhadap “objek” cantik dalam diri perempuan. Ada yg menyebut cantik itu seksi, ada juga yg bilang putih itu cantik. Tetap satu objek definisi cantik: fisik. Bohong besar dan terlalu klise kalau kita katakan bahwa cantik itu adalah smart, berwawasan, dll. Cantik itu fisik.

Mulan Jameela bilang: bahwa perempuan itu adalah mahluk Tuhan yang paling seksi. Yap betul. Kalau cantik bisa ada di semua mahluk.

Pertanyaannya adalah: haruskah kita memiliki istri cantik? Menurut saya jawabannya: YA!

Saya yakin, semua hal di dunia ini diciptakan beragam oleh Tuhan karena ada maksud dan tujuannya. Wajar sekali kalau setiap laki-laki menginginkan wanita cantik. Setiap laki2 pun punya persepsi berbeda tentang standar cantik. Belum tentu istri kita dianggap cantik oleh pria lain. Tapi yang penting adalah dia cantik dalam arti benar-benar cantik untuk kita. Lebih bagus lagi kalau istri kita itu memang cantik menurut kita dan menurut orang lain.

Ini semua diluar bahasan cantik secara fisik. Tentunya juga buat apa punya istri cantik tapi suka melawan dan sulit diatur, apalagi sulit dikendalikan. Banyak sekali unsur2 yg menentukan pemilihan jodoh oleh laki2 selain cantik fisik.

Agak aneh memang tulisan ini… Gak nyambung ya banget. Yaa… di dalam Express Air ku berpikir saat pramugari menyuguhkan hidangan. Yaa.. seksi sih seksi… tapi dalam hati kukatakan: “…masih jauh lebih cantik istriku…”

Kelas Hati

Tadi malam saya nonton Mario Teguh The Golden Ways dengan tema tentang hati. Ada satu pernyataan yang sangat menarik perhatian saya, yaitu bahwa “kita mengeluh karena kita dibebani beban pekerjaan yang berat dan kita tidak bisa menyelesaikannya”.

Beliau mengatakan bahwa sebetulnya permasalahan seperti itu adalah bagaimana hati kita menyikapi sesuatu pekerjaan kita. Kalau kita siap mengerjakannya, itu karena kelas hati kita sudah naik lebih tinggi. Tapi kalau kita terasa berat dan terbebani dengan pekerjaan kita sendiri, itu karena kelas hati kita berada tepat setingkat dengan kita. Hmm… sulit diucapkan kembali, tapi kurang lebih begitulah inti kalimatnya.

Untuk naik ke level keyakinan diri, memang perlu manajemen hati dan kekuatan internal untuk menaikkan kelas hati menjadi diatasnya. Hmm.. bingung juga… Tapi, mungkin karena ini bahasan tentang hati (yang tidak bisa dipikirkan oleh logika, maka menjelaskannya dalam kelogikaan bahasa pun jadi sulit.

Thank’s Pak Mario, you make it more clear to me about it!

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya

Ya! Itulah ungkapan mutiara Imam Ali bin Abi Thalib. Seringkali saya melupakan sesuatu, padahal dahulu pernah saya menemukan kondisi seperti ini dan pernah ada jawabannya!

Seringkali kita harus memulai sesuatu dari nol, start from scratch. Tambahan waktu, pikiran, dan energi untuk ‘riset’ yang seharusnya tidak perlu lagi dilakukan. Inilah potret manusia pelupa (seperti saya). Bahkan, yang lebih parah lagi, kita mengetahui itu bahaya buat kita tapi kita lakukan juga sekarang karena kita lupa akan sesuatu yang pernah terjadi dahulu kala.

Pelajaran sewaktu SMP dulu mengatakan bahwa sejarah dimulai pada saat manusia mengenal tulisan. Peradaban manusia bisa berevolusi dengan cepat karena umat manusia mampu mewariskan khazanah keilmuan yang dimilikinya untuk generasi selanjutnya agar dapat terus dikembangkan.

Dunia telah mengenal istilah Knowledge Management. Pada masa kecil dulu, kita cukup asik dengan menggunting koran dan majalan untuk kita tempel di kertas-kertas yang kemudian kita jilid sehingga menjadi suatu “buku” besar yang memuat berbagai informasi. Dengan sentuhan kreativitas, jadilah suatu buku referensi yang dapat dimanfaatkan beberapa tahun ke depan.

Tapi, dunia telah berubah Kang… Sekarang kita masuk abad informasi. Segala informasi bisa kita dapatkan, mulai dari cara membuat ongol-ongol, membunuh serangga, sampai dengan cara merakit bom. Bahkan, di jaman ini pula, komunikasi semakin mendekatkan jarak antar manusia. Sungguh ajaib….!

Sekarang, dengan adanya jutaan informasi, tidak salah apabila kita beralih ke cara yang lebih efektif untuk mengelola pengetahuan/informasi. Saat kita browsing di internet, kita bisa simpan halaman/artikel yang menarik ke dalam suatu folder atau direktori yang memuat tema tertentu. Tentu informasi yang semakin banyak ini perlu dikategorisasi agar mudah menelusurinya di waktu yang akan datang. Jika informasi sudah mencapai ratusan, ribuan, atau jutaan, kita bisa simpan semua itu di dalam 1 keping CD yang nantinya kita simpan baik-baik dan mampu bertahan bertahun-tahun.

Subhanallah… Benarlah apa yang dikatakan Imam Ali empat belas abad yang lalu perihal knowledge management…

…ikatlah ilmu dengan menuliskannya…

Menghadapi orang yang menggunjing diri kita

Seorang yang cukup luas ilmunya berkata tentang orang yang menggunjing (atau memfitnah) diri kita dibelakang kita:

  1. Jika orang menilai dan bersikap negatif pada kita mungkin karena ada yang jelek menurut mereka, iri karena kelebihan kita, takut tersaingi, atau mungkin memang karakter mereka yang jelek.
  2. Hadapi mereka dengan lapang dada dengan pemahaman bahwa manusia itu penuh perbedaan, sapa mereka sewajarnya. Jika masih berlaku jelek kepada kita, anggap saja bebegig sawah. Ajak berjabat tangan sambil kita wirid. Fokuskan atensi kita pada profesionalitas. Jika perlu, ajak berdialog 4 mata sambil meminta maaf.
  3. Utamakan penilaian baik dari atasan tapi tidak menjilat. Palingkan dari perhatian mereka dengan kesibukan tambahan jika ada waktu. Jangan buka peluang mereka menilai jelek lagi pada kita karena urusan tugas dan tanggung jawab kerja.
  4. Ciptakan hubungan lebih baik lagi dengan orang yang masih menilai baik pada kita dengan berbagai strategi dan perluas persaudaraan.

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya

Ya! Itulah ungkapan mutiara Imam Ali bin Abi Thalib. Seringkali saya melupakan sesuatu, padahal dahulu pernah saya menemukan kondisi seperti ini dan pernah ada jawabannya!

Seringkali kita harus memulai sesuatu dari nol, start from scratch. Tambahan waktu, pikiran, dan energi untuk ‘riset’ yang seharusnya tidak perlu lagi dilakukan. Inilah potret manusia pelupa (seperti saya). Bahkan, yang lebih parah lagi, kita mengetahui itu bahaya buat kita tapi kita lakukan juga sekarang karena kita lupa akan sesuatu yang pernah terjadi dahulu kala.

Pelajaran sewaktu SMP dulu mengatakan bahwa sejarah dimulai pada saat manusia mengenal tulisan. Peradaban manusia bisa berevolusi dengan cepat karena umat manusia mampu mewariskan khazanah keilmuan yang dimilikinya untuk generasi selanjutnya agar dapat terus dikembangkan.

Dunia telah mengenal istilah Knowledge Management. Pada masa kecil dulu, kita cukup asik dengan menggunting koran dan majalan untuk kita tempel di kertas-kertas yang kemudian kita jilid sehingga menjadi suatu “buku” besar yang memuat berbagai informasi. Dengan sentuhan kreativitas, jadilah suatu buku referensi yang dapat dimanfaatkan beberapa tahun ke depan.

Tapi, dunia telah berubah Kang… Sekarang kita masuk abad informasi. Segala informasi bisa kita dapatkan, mulai dari cara membuat ongol-ongol, membunuh serangga, sampai dengan cara merakit bom. Bahkan, di jaman ini pula, komunikasi semakin mendekatkan jarak antar manusia. Sungguh ajaib….!

Sekarang, dengan adanya jutaan informasi, tidak salah apabila kita beralih ke cara yang lebih efektif untuk mengelola pengetahuan/informasi. Saat kita browsing di internet, kita bisa simpan halaman/artikel yang menarik ke dalam suatu folder atau direktori yang memuat tema tertentu. Tentu informasi yang semakin banyak ini perlu dikategorisasi agar mudah menelusurinya di waktu yang akan datang. Jika informasi sudah mencapai ratusan, ribuan, atau jutaan, kita bisa simpan semua itu di dalam 1 keping CD yang nantinya kita simpan baik-baik dan mampu bertahan bertahun-tahun.

Subhanallah… Benarlah apa yang dikatakan Imam Ali empat belas abad yang lalu perihal knowledge management…

…ikatlah ilmu dengan menuliskannya…