Kalau kebetulan ke Jakarta, pasti TOT dulu alias Tengok Orang Tua. Sayang juga rasanya udah ngangkangi bumi Indonesia ribuan km dan sampai di kota Monas ini langsung pulang.
Kesempatan kali ini saya ke Bandung dari Jakarta menggunakan kereta api Argo Gede. Tiketnya hanya 50 rebu perak. Yang saya kagum yaitu pelayanan PT KAI di atas gerbong eksekutif semakin baik. Bahkan menurut saya jauh lebih nyaman onboard di Argo Gede daripada di pesawat Boeing 737 seri 900ER milik maskapai berlogo singo edan.
Di dalam gerbong, setiap penumpang berhak mendapatkan akses ke satu colokan listrik. Tentu ini menjadi peluang yang sangat baik bagi para commuter yang bergantung pada laptop, atau sekedar mengecas HP. Bukan lumayan lagi, ini sebuah pelayanan prima!
Selain itu, awak gerbong juga semakin profesional. Sekarang mereka sudah mengenakan pakaian formal â’la pesawat terbang. Kalau pesawat terbang hanya dihiasi dengan dua-tiga seragam (satu jenis pakaian pilot, dan dua jenis palkaian pramugari/a) saja, maka Argo Gede memiliki perbedaan yang jelas antara masinis, penyedia makanan, penjual pada onboard shop, pemeriksa tiket, dan pengangkut sampah. Luar biasa.
Kereta api ternyata tidak kalah bersaing dengan pesawat terbang dari segi pelayanan, tentunya minus kecepatan perjalanan.
Tidak ketinggalan, untuk setiap penumpang juga disediakan onboard magazine layaknya majalah di kabin pesawat.
Hanya saja, makanan yang disediakan Argo Gede hanya snack, bukan makanan berat. Entah karena saya naik pada jadwal 16.30 atau memang tidak pernah ada makan siang/malam/pagi sama sekali. Ah… yang penting ini kereta memang hebat, semakin hari semakin baik…. Siapa ini para manajernya ya? Boleh juga punya konsep.
Sebenarnya setelah 20-an menit “lepas landas” dari Gambir, pramugari/a menawarkan makanan yang enak. Penampilannya bagus, dibungkus dengan rapi dan bersih pula. Tapi… kayaknya itu harus merogoh kocek.
O iya, saat saya menatap ke bagian depan gerbong, ada tertempel papan nama bertuliskan “MANAGER ON DUTY”, disertai nama dan nomor HP-nya. Wheew…. wedduuuuun ini PT KAI…. salut pisan euy!
Di depan sana pula, ada sebuah TV yang menayangkan RailTV dengan acara beragam, termasuk film box office berdurasi penuh. Muantap… Tapi, sekali lagi… koq hanya 1 TV ya? Jauh pula di depan. Woooy…. toloong…. mata saya sampe kelilipan berusaha melototin teks terjemahan yang berukuran mikro.
Beberapa saat sebelum melintasi Jembatan Cisomang, awak gerbong memberikan keynote speech perihal sightseeing di jembatan ini dengan menarasikan sejarah Jembatan Cisomang, panjang jembatan, peresmian, jarak tempuh kereta api melintasi jembatan. Huebatt… ini pernah dialami waktu saya terbang bersama Garuda yang saat melintasi Gunung Bromo (kalau tidak salah), awak kabin (pilot?) juga memberikan narasinya.
Ayo… maju terus perkereta-apian Indonesia. Jangan kalah sama TGV-nya Perancis!
(on rail blogging)