GTD, Life Saver Tool

Memang benar tidak semua orang memerlukan GTD, this life is fine without it. Namun bagi saya, rasanya terlalu lelah untuk memikirkan kompleksnya perikehidupan dan yang harus diselesaikan dalam hidup ini. Saya tidak bisa juga membiarkan kehidupan ini tanpa perencanaan yang baik.

Menerapkan sistem GTD dalam hidup kita sebetulnya hanya perlu 2 modal klasik: merencanakan dan melaksanakan. Sistem GTD memecah perencanaan tingkat utopi (cita-cita) bertahap sampai dengan tingkat pelaksanaan terkecil. Saya ingin berbagi pengetahuan kepada pembaca bagaimana sistem GTD bekerja dan bagaimana sistem ini bisa bekerja membantu mental dari kerumitan menjalani keseharian, kesemingguan, kesebulanan, kesetahunan.

Berikut ini contoh kasus untuk memahami cara kerja GTD.

PERTAMA: MEMECAH MAKNA HIDUP MENJADI SEKUMPULAN TINDAKAN BERTUJUAN

Tingkat yang disimbolkan dengan angka ratusan ini merupakan gambaran level meter seperti pada terbangnya pesawat udara ataupun kapal selam.

Lanjut membaca

My GTD Setup

Getting Things Done (GTD) by David Allen is an amazing producivity tool system. It’s even more mindset than just a system. It brings my life to optimum productivity. If our life contains a lot of capturing, processing, organizing, doing, and reviewing. All process can be delegated–excluding “doing” of course.

Well, GTD might some confusing for new practitioner. But once got a grasp on it, it will be hard to leave the system. Anyway, GTD can be implemented by any media/tool. But in this 21st century, things like more simple with a IT gadget on palm. Just get one, and see how it can be the GTD media.

I myself using a digital assistant form of GTD, an OmniFocus installed on MacBook. OmniFocus is a great tool for building GTD system according to our own styles and needs. Some people made it simpler, although others built it really complex. There’s no best practices on GTD setups. It really flexible. Here’s my GTD setup on OmniFocus.

Miscelaneous                                = untuk single actions
Someday/Maybe                        = bayangan akan perlu dilakukan
5f Purpose & Core Value        = 3 tujuan utama hidup saya
4f Vision (3-5 years)                = 4 target karir dan pendidikan
3f Goals (1-2 years)                = 3 target pencapaian pengetahuan
2f Areas of Responsibility        = 5 tanggung jawab saat ini (pekerjaan, keluarga, diri sendiri)
1f Projects                                = 2 kategori kantor, 3 kategori kualitas diri, 3 kategori keluarga

1f Project merupakan aktivitas keseharian yang tercakup dalam 2f Areas of Responsibility. Setiap to-do yang memerlukan beberapa action agar project selesai dilaksanakan, dibuat dalam satu project. Kategori kantor merupakan yang paling banyak dan dinamis sejalan dengan mulai dan selesainya berbagai pekerjaan.

Pada prinsipnya, mungkin istilah hidup itu mengalir bagai air ada benarnya. Namun demikian agar aliran air ini terarah, perlu diberi batas yang jelas agar alirannya mengalir stabil, deras, dan tetap terfokus pada tujuan hidup.

Bosan Hidup

Seorang pria mendatangi Sang Master, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”

Sang Master tersenyum, “Oh, kamu sakit.”

“Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian sang Master.

Lanjut membaca

E-mail dari Seorang Sahabat yang Baru Pindah “Agama”

Date: Wed, 28 Jul 2010 11:56:49 -0700
Subject: Re: Mac 10.5.8 and AEDUPAC
From: fnxxxxxxxx@gmail.com
To: adamxxxxxx@hotmail.com

Edan siah jay urang tadi boga pangalaman buruuuukkk..njiiirrr…gara2
windows vista yang tidak lebih baik dari kondom vista..urang kamari geus
cape ngajieun materi presentasi, gebleg eta presentasi nge-hank not
responding, gara2 vista lemot jiga cakcak hamil bel..gebleg siah

Bos urang aambekan deuih, teu apaleun kana laptop…gara2 vista lelet jadi
we berantakan, gebleg urang jadi manual nempokeun file-na hiji2… Edan
kapok urrang mah embung make windows deui, komo deui anu ngarana
vista…kuraaang ajaaar!!!!

Btw kalem, engke SL mah jatah jang diimah, mun nyeting di kantor mah ribet
moal baleg..

Tapi hanjakalna can aya hackintoshna…sediiih anjiiirrrrrrr….

KOmEnTar:

Ya… ada baiknya Anda segera mengganti OS yang lebih ringan dan aman. Vista banyak yang komplen juga karena dianggap sebagai bloatware yang boyot. User malah habis waktu buat nunggu proses, padahal seharusnya komputer itu mempercepat proses. Berikut pilihan yang dapat Anda pilih (lingkari salah satu):

a. Windows XP

b. Windows 98

c. Ubuntu

d. Mandrake

e. Tiger

f. Leopard

Kereta Api Kelas Argo Semakin Berkualitas

Kalau kebetulan ke Jakarta, pasti TOT dulu alias Tengok Orang Tua. Sayang juga rasanya udah ngangkangi bumi Indonesia ribuan km dan sampai di kota Monas ini langsung pulang.

Kesempatan kali ini saya ke Bandung dari Jakarta menggunakan kereta api Argo Gede. Tiketnya hanya 50 rebu perak. Yang saya kagum yaitu pelayanan PT KAI di atas gerbong eksekutif semakin baik. Bahkan menurut saya jauh lebih nyaman onboard di Argo Gede daripada di pesawat Boeing 737 seri 900ER milik maskapai berlogo singo edan.

Di dalam gerbong, setiap penumpang berhak mendapatkan akses ke satu colokan listrik. Tentu ini menjadi peluang yang sangat baik bagi para commuter yang bergantung pada laptop, atau sekedar mengecas HP. Bukan lumayan lagi, ini sebuah pelayanan prima!

Selain itu, awak gerbong juga semakin profesional. Sekarang mereka sudah mengenakan pakaian formal â’la pesawat terbang. Kalau pesawat terbang hanya dihiasi dengan dua-tiga seragam (satu jenis pakaian pilot, dan dua jenis palkaian pramugari/a) saja, maka Argo Gede memiliki perbedaan yang jelas antara masinis, penyedia makanan, penjual pada onboard shop, pemeriksa tiket, dan pengangkut sampah. Luar biasa.

Kereta api ternyata tidak kalah bersaing dengan pesawat terbang dari segi pelayanan, tentunya minus kecepatan perjalanan.

Tidak ketinggalan, untuk setiap penumpang juga disediakan onboard magazine layaknya majalah di kabin pesawat.

Hanya saja, makanan yang disediakan Argo Gede hanya snack, bukan makanan berat. Entah karena saya naik pada jadwal 16.30 atau memang tidak pernah ada makan siang/malam/pagi sama sekali. Ah… yang penting ini kereta memang hebat, semakin hari semakin baik…. Siapa ini para manajernya ya? Boleh juga punya konsep.

Sebenarnya setelah 20-an menit “lepas landas” dari Gambir, pramugari/a menawarkan makanan yang enak. Penampilannya bagus, dibungkus dengan rapi dan bersih pula. Tapi… kayaknya itu harus merogoh kocek.

O iya, saat saya menatap ke bagian depan gerbong, ada tertempel papan nama bertuliskan “MANAGER ON DUTY”, disertai nama dan nomor HP-nya. Wheew…. wedduuuuun ini PT KAI…. salut pisan euy!

Di depan sana pula, ada sebuah TV yang menayangkan RailTV dengan acara beragam, termasuk film box office berdurasi penuh. Muantap… Tapi, sekali lagi… koq hanya 1 TV ya? Jauh pula di depan. Woooy…. toloong…. mata saya sampe kelilipan berusaha melototin teks terjemahan yang berukuran mikro.

Beberapa saat sebelum melintasi Jembatan Cisomang, awak gerbong memberikan keynote speech perihal sightseeing di jembatan ini dengan menarasikan sejarah Jembatan Cisomang, panjang jembatan, peresmian, jarak tempuh kereta api melintasi jembatan. Huebatt… ini pernah dialami waktu saya terbang bersama Garuda yang saat melintasi Gunung Bromo (kalau tidak salah), awak kabin (pilot?) juga memberikan narasinya.

Ayo… maju terus perkereta-apian Indonesia. Jangan kalah sama TGV-nya Perancis!

(on rail blogging)