Beberapa waktu lalu saya kebetulan ada keperluan untuk terbang jarak jauh. Terbanglah saya dengan Garuda…
Dalam perjalanan di pesawat saya berpikir akan sesuatu mengenai pentingnya peranan karakter dan budaya perusahaan. Karakter dan budaya yang ditumbuhkan oleh para pimpinan akan tercermin dalam produk dan layanan. Tidak hanya produk yang bermutu dan prima untuk dapat mendapatkan loyalitas pelanggan, tetapi pelayanan bernilai tambah yang akan masuk ke relung hati penerima jasa.
Kebetulan saya juga pengguna produk Apple, saya juga merasakan hal yang sama. Secara produk, Apple menjual barang dengan kualitas premium yang tidak akan pernah bermain di kelas berbiaya murah maupun menengah. Dalam menjual barang, Apple tidak hanya jual lepas dan membiarkannya tanpa ekosistem pendukung. Apple juga menjual jasa layanan nilai tambah yang akan sangat memperkaya pengalaman digital dalam produknya.
Sama halnya dengan Garuda, saya mendapatkan pelajaran bahwa berjualan itu tidak hanya cukup menjual core product, tapi harus dengan pendukung seluruh mata rantai produk mulai dari “pesan” sampai dengan “berakhir”.
Saya jadi ingat akan pentingnya penerapan tata nilai “peduli” dalam suatu core business. Bentuk kepedulian yang paling mendasar adalah ketajaman dalam menangkap “kewajaran kebutuhan” pelanggan. Sehingga nilai-nilai kepedulian akan terkait erat dengan performa pelayanan pelanggan.
Mempelajari pelayanan pelanggan di Garuda, saya merasakan bahwa kebutuhan-kebutuhan dasar yang dibutuhkan dalam suatu perjalanan penerbangan (sebagia core business) ditangkap oleh Garuda sebagai nilai jual. Betul yang dibilang bahwa yang ditawarkannya adalah service excellence. Tidak hanya mengandalkan pesawat baru, tetapi juga memberikan service mendasar, meskipun bukan mewah berlebih.
Saya menemukan banyak kesamaan model bisnis Garuda dengan Apple dalam hal jasa dan optimalisasi perpanjangan nilai tambah yang kembali menjadi nilai tambah bagi profit perusahaan. Saya salut dengan ketajaman service excellence Steve Jobs (CEO Apple) dan Emirsyah Satar (CEO Garuda).
Update 29 Maret 2012
Saking semangatnya menuangkan kepuasan saya terhadap Garuda dan Apple, sampai lupa nulis visi pelayanan pelanggan PLN.
PLN termasuk salah satu BUMN terbesar di Indonesia yang wilayah kerjanya menjangkau seluruh pelosok tanah air. Fungsi Public Service Obligation memang tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan perusahaan yang murni mengejar keuntungan. Memang tidak bisa disamakan dengan Garuda yang demi mencapai service excellence dengan konsekuensi berharga premium yang perlu bersaing dengan operator lain yang bertaraf ekonomis. Service excellence memerlukan trade-off antara cost dan service.
PLN sebagai operator penyedia listrik dari hulu ke hilir, mulai dari pembangkit listrik, penyedia jaringan listrik, sampai dengan distributor energi listrik ke pelanggan, masih terkendala oleh beban PSO. Laba minimal, posisi neraca negatif, sangat berdampak pada tidak beranjaknya PLN menuju service excellence karena masih berkutat pada service obligation.
Supply sebuah service ditentukan oleh demand pelanggan dan cost penyedia service. Kelemahan bisnis listrik adalah sifatnya yang universal, tidak mengenal kelas. Setiap strata sosial memiliki akses listrik yang sama satu sama lain. Terputusnya aliran listrik karena jaringan yang terganggu tidak memandang kelas, semua kena dampaknya.
Saking sibuknya manajemen PLN memikirkan operasional, pemeliharaan, dan kehandalan pembangkit, kompetensi Customer Service Orientation pegawainya tampak kurang diperhatikan. Saya ingat bagaimana besarnya peran CSO antara pramugari Garuda dengan pramugari Lion Air. Kompetensi dan rekompetensi periodik memerlukan yang wajar untuk sampai pada excellence.