Antara Kopi dan Kualitas Hidup

Akhir pekan kemarin saya menonton film berjudul Limitless yang bercerita tentang penggunaan NZT. Konon katanya NZT dapat meningkatkan kemampuan pikir otak hingga 100 persen. Terlepas dari nyata atau tidak, saya jadi teringat dengan efek kafein pada kopi.

Kopi memiliki kadar kafein cukup tinggi yang mempengaruhi central nervous system atau sistem saraf pusat, begitu kata bang Wiki. Kafein dapat mengembalikan keadaan melayang, mengantuk, zombie, berawan, atau apalah namanya, menjadi kembali sadar dengan pandangan lebih tajam, penciuman lebih kuat, pendengaran lebih sensitif, dan daya pikir lebih cespleng.

Jargon iklan “…secangkit semangat untuk Indonesia…” memang tidak salah. Kalau kita berpikir dengan keras dan mencoba konsentrasi tingkat tinggi, akan lebih tajam dan kuat bila ditambah efek kafein entah peningkatan berapa persen.

Mood memang sangat rapuh, seringkali jatuh tanpa sebab, atau bahkan terpengaruh oleh lingkungan. Namun beberapa penelitian yang baik menunjukkan bahwa berolahraga mempengaruhi kesehatan mental secara positif, walau cukup dengan berjalan kaki secara rutin. Ada juga beberapa makanan yang harus dimakan dan juga dihindari untuk memaksimalkan fungsi kognitif seseorang. Berpartisipasi dalam aktivitas sosial menunjukkan fungsi kognitif dan mood yang positif. Berlatih mengingat juga bisa meningkatkan daya ingat. Bahkan bagi para profesional yang perlu tampil, mengisi teka-teki silang beberapa saat sebelum tampil dapat membantu mempertajam konsentrasi sehingga membantu untuk tetap fokus saat dibutuhkan.

By Penulis Posted in Opini

GTD, Life Saver Tool

Memang benar tidak semua orang memerlukan GTD, this life is fine without it. Namun bagi saya, rasanya terlalu lelah untuk memikirkan kompleksnya perikehidupan dan yang harus diselesaikan dalam hidup ini. Saya tidak bisa juga membiarkan kehidupan ini tanpa perencanaan yang baik.

Menerapkan sistem GTD dalam hidup kita sebetulnya hanya perlu 2 modal klasik: merencanakan dan melaksanakan. Sistem GTD memecah perencanaan tingkat utopi (cita-cita) bertahap sampai dengan tingkat pelaksanaan terkecil. Saya ingin berbagi pengetahuan kepada pembaca bagaimana sistem GTD bekerja dan bagaimana sistem ini bisa bekerja membantu mental dari kerumitan menjalani keseharian, kesemingguan, kesebulanan, kesetahunan.

Berikut ini contoh kasus untuk memahami cara kerja GTD.

PERTAMA: MEMECAH MAKNA HIDUP MENJADI SEKUMPULAN TINDAKAN BERTUJUAN

Tingkat yang disimbolkan dengan angka ratusan ini merupakan gambaran level meter seperti pada terbangnya pesawat udara ataupun kapal selam.

Lanjut membaca

Apple, Garuda, PLN dan Visi Pelayanan Pelanggan

Beberapa waktu lalu saya kebetulan ada keperluan untuk terbang jarak jauh. Terbanglah saya dengan Garuda…

Dalam perjalanan di pesawat saya berpikir akan sesuatu mengenai pentingnya peranan karakter dan budaya perusahaan. Karakter dan budaya yang ditumbuhkan oleh para pimpinan akan tercermin dalam produk dan layanan. Tidak hanya produk yang bermutu dan prima untuk dapat mendapatkan loyalitas pelanggan, tetapi pelayanan bernilai tambah yang akan masuk ke relung hati penerima jasa.

Kebetulan saya juga pengguna produk Apple, saya juga merasakan hal yang sama. Secara produk, Apple menjual barang dengan kualitas premium yang tidak akan pernah bermain di kelas berbiaya murah maupun menengah. Dalam menjual barang, Apple tidak hanya jual lepas dan membiarkannya tanpa ekosistem pendukung. Apple juga menjual jasa layanan nilai tambah yang akan sangat memperkaya pengalaman digital dalam produknya.

Sama halnya dengan Garuda, saya mendapatkan pelajaran bahwa berjualan itu tidak hanya cukup menjual core product, tapi harus dengan pendukung seluruh mata rantai produk mulai dari “pesan” sampai dengan “berakhir”.

Saya jadi ingat akan pentingnya penerapan tata nilai “peduli” dalam suatu core business. Bentuk kepedulian yang paling mendasar adalah ketajaman dalam menangkap “kewajaran kebutuhan” pelanggan. Sehingga nilai-nilai kepedulian akan terkait erat dengan performa pelayanan pelanggan.

Mempelajari pelayanan pelanggan di Garuda, saya merasakan bahwa kebutuhan-kebutuhan dasar yang dibutuhkan dalam suatu perjalanan penerbangan (sebagia core business) ditangkap oleh Garuda sebagai nilai jual. Betul yang dibilang bahwa yang ditawarkannya adalah service excellence. Tidak hanya mengandalkan pesawat baru, tetapi juga memberikan service mendasar, meskipun bukan mewah berlebih.

Saya menemukan banyak kesamaan model bisnis Garuda dengan Apple dalam hal jasa dan optimalisasi perpanjangan nilai tambah yang kembali menjadi nilai tambah bagi profit perusahaan. Saya salut dengan ketajaman service excellence Steve Jobs (CEO Apple) dan Emirsyah Satar (CEO Garuda).

Update 29 Maret 2012

Saking semangatnya menuangkan kepuasan saya terhadap Garuda dan Apple, sampai lupa nulis visi pelayanan pelanggan PLN.

PLN termasuk salah satu BUMN terbesar di Indonesia yang wilayah kerjanya menjangkau seluruh pelosok tanah air. Fungsi Public Service Obligation memang tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan perusahaan yang murni mengejar keuntungan. Memang tidak bisa disamakan dengan Garuda yang demi mencapai service excellence dengan konsekuensi berharga premium yang perlu bersaing dengan operator lain yang bertaraf ekonomis. Service excellence memerlukan trade-off antara cost dan service.

PLN sebagai operator penyedia listrik dari hulu ke hilir, mulai dari pembangkit listrik, penyedia jaringan listrik, sampai dengan distributor energi listrik ke pelanggan, masih terkendala oleh beban PSO. Laba minimal, posisi neraca negatif, sangat berdampak pada tidak beranjaknya PLN menuju service excellence karena masih berkutat pada service obligation.

Supply sebuah service ditentukan oleh demand pelanggan dan cost penyedia service. Kelemahan bisnis listrik adalah sifatnya yang universal, tidak mengenal kelas. Setiap strata sosial memiliki akses listrik yang sama satu sama lain. Terputusnya aliran listrik karena jaringan yang terganggu tidak memandang kelas, semua kena dampaknya.

Saking sibuknya manajemen PLN memikirkan operasional, pemeliharaan, dan kehandalan pembangkit, kompetensi Customer Service Orientation pegawainya tampak kurang diperhatikan. Saya ingat bagaimana besarnya peran CSO antara pramugari Garuda dengan pramugari Lion Air. Kompetensi dan rekompetensi periodik memerlukan yang wajar untuk sampai pada excellence.

By Penulis Posted in Opini

Self-Help

Banyak sekali buku self-help yang beredar di pelosok-pelosok toko buku, mulai dari Chicken Soup, Zen Habits, Personality Plus, Seven Habits, Efisien Mengelola Waktu, dan sebagainya. Saya termasuk orang yang senang sekali membaca buku-buku self-help. Buku-buku jenis ini membuat saya tetap keep on the track karena pada saat saya memilih buku sebelum memutuskan untuk membacanya (baca: membelinya), pastilah sesuatu yang sedang saya butuhkan.

Pernah suatu kali diskusi dengan seorang kawan yang mengatakan bahwa membaca buku-buku seperti itu hanyalah percuma. Alasannya, membaca buku self-help sama saja dan hanya semangat beberapa saat setelah membacanya serta tidak membekas.

Memang benar setiap buku yang kita baca hanya bisa terserap untuk jangka waktu yang lama hanya sebagian kecil. Namun demikian, jika kita memeliharanya akan tetap membuat kita “terjaga”. Mungkin hambatan besar untuk itu adalah terkadang sulit mencari buku yang tepat dan…. rasanya tidak ada waktu untuk mencarinya. Tapi sekarang jaman sudah modern ya, kita punya masalah apa bisa langsung googling. Bacaan kita terfragmen dalam bagian-bagian yang kita butuhkan dan kita sukai.

Ada salah satu website yang belum lama saya ikuti mengenai kebiasaan-kebiasaan perilaku yang mendamaikan hidup. Namanya adalah Zen Habits: Smile, Breathe, Go Slowly. Isinya cerita singkat pribadi, namun sangat menginspirasi.

Bisa juga televisi menjadi salah satu media self-help, contohnya tayangan Mario Teguh Golden Ways. Bahasannya cukup membakar dan sangat baik. Kalau melihatnya dari sudut pandang positif, tidak ada yang tidak baik dari tayangan ini.

Memang, yang kita perlukan untuk memperbaiki diri adalah: “mau mendengar!“

By Penulis Posted in Opini

Saling Cemoohan Antar Agama dan Antar Mazhab

Subuh tadi saya membaca sebuah blog yang membahas tentang debat agama dengan Rudy Yohanes Hutagalung. Tidak sulit mencari orang ini di Google.

Bahasan si Rudy ini terkait dengan bahasan anti-Islam. Tampaknya orang ini ada ketidakpuasan dengan ajaran Islam. Semua tentang Islam dia bantah dan rendahkan.

Menurut saya, silahkan saja dia menulis aneh-aneh tentang akidah Islam. Justru kekasaran verbal seperti itu ga boleh kita balas dengan kekasaran serupa. Tampilkanlah dalam bentuk santun. Biarkan orang seperti itu memenuhi akalnya dengan nafs-nya. Toh, orang yang dikuasai nafs akan selalu kehilangan subjektivitas akalinya.

Jadi ingat ketika proses pencarian Tuhan dan ajaran-Nya yang suci. Saya sempat melepaskan akidah ajaran yang “diturunkan orang tua” demi mendapatkan kepuasan batin.

Saya pribadi selalu menekankan kepada diri saya dan keluarga bahwa mencari kebenaran itu harus selalu dilakukan sampai nyawa meregang dan akal tidak lagi dapat membedakan. Ketika mendapat suatu kabar kebenaran, haruslah cek dan ricek, uji, pelajari, bandingkan, pikirkan, dan renungkan. Tanggung jawab akal untuk menerima atau menolak setelah melaksanakan semua verifikasi itu.

Jangan ketika mendapat kabar (kemungkinan) kebenaran lalu kita mencemoohnya dengan berlandaskan pada “logika selera” dan “logika massa”. Akal kita dipertaruhkan dihadapan Allah. Mencemoohnya merupakan perilaku ignorance alias masa bodoh. “Masa bodoh” sebetulnya merupakan perilaku membiarkan diri agar bodoh karena tidak mau merubah pendiriannya.

Tugas akal manusialah yang menjadi patokan pertanggungjawaban, bukan perasaan (baca: hati). Hati manusia mudah terombang-ambing stimulus inderawi. Justru akallah yang akan membuat hati cenderung pada sesuatu.

Orang semacam Rudy tadi menunjukkan bahwa akalnya lemah dan hanya berpikir bahwa yang diyakininyalah (ajaran Kristen) yang paling benar dan yang lain salah. Benarkah logikanya? Mampukah diuji melalui kaidah filsafat murni? Ataukah hanya sebatas filsafat yang diarahkan?

Sama halnya dengan seorang muslim yang menganggap bahwa semua kristen itu kafir. Darimana tau bahwa semua kristen itu trinitarian? Apakah muslimin tau bahwa ada banyak kristen unitarian yang berprinsip tauhid seperti muslimin.

Agama di dunia ini banyak, mazhab dalam satu agama pun banyak, keabsahan logika akal bahkan lebih banyak. Tapi… kebenaran pasti hanya satu dan hanya satu. Tugas masing-masing untuk mencari…

By Penulis Posted in Opini